Kesimpulan Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara
Oleh: Jubaedah CGP Garut (063) SDN 4 Barusari
1. Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?
Filosofi Pendidikan Indonesia yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara sudah lama saya kenal. Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso Tut Wuri Handayani. Bahkan tut wuri Handayani menjadi lambang atau logo di dunia pendidikan di negara tercinta ini. Namun penerapannya masih jauh dari yang diharapkan. Kita terlalu kaku untuk menerapkannya karena terkekang aturan yang bersifat baku dan menyeluruh.
Pemikiran saya selama ini masih menganggap bahwa murid adalah obyek yang harus mengikuti apa yang kita tugaskan, murid adalah sosok yang harus selalu mendengar apa yang disampaikan oleh guru, murid dipaksa untuk menghapal dan mengingat apa yang disampaikan guru, kurang diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan keinginannya. Kreatifitas siswa dibatasi oleh ruang dan waktu. ilmu yang diberikan juga bersifat sudah baku. “Biasanya dituangkan dalam buku teks dan materinya hanya itu-itu saja. Metode pengajarannya hanya seputar listening atau mendengarkan, mencatat dan menghafal teks.
Pada saat assessment atau penilaian biasanya hanya melalui ujian dengan soal pilihan ganda, siswa tidak memiliki kebebasaan untuk menuangkan pikirannya terkait soal yang diberikan. Kita terasa terbebani kalau memberikan soal yang bersifat uraian atau berupa pemecahan masalah.
Mungkin selama ini kita hanya berpikir menghabiskan waktu saja untuk menunaikan kewajiban, berangkat jam 07.00 pulang jam 12.30, tanpa kita renungkan apa yang menjadi kesalahan dari setiap kegagalan. Saya selalu menganggap kegagalan anak adalah kegagalan pribadinya sendiri. Padahal banyak hal yang bisa menjadi mata rantai kegagalan tersebut.
2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini?
Menurut Ki Hajar Dewantara,
pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun tujuannya
adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka
sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan
kebahagiaan setinggi-tingginya. Dengan pandangan Ki Hajar Dewantara tersebut
membuat saya sadar bahwa apa yang telah saya lakukan selama ini masih jauh dari cara
pandang KHD, saya harus memandang pada murid saya bahwa murid saya adalah
insan-insan yang memiliki potensi yang harus dituntun perkembangannya dengan
penuh kasih dan keikhlasan. Selalu berikan senyuman pada saat memandangnya. Saya
harus bisa menjadi teladan bagi mereka dengan contoh-contoh perilaku yang bisa
ditiru, baik dalam hal kedisiplinan, tutur kata, etika, kesopanan, keimanan dan
cara beribadah.
Sikap menjadi tuan dalam kelas ternyata harus berubah menjadi menghamba kepada tuan dalam hal ini siswa didik kita. Untuk bisa menghamba kepada siswa diperlukan kesadaran, kesabaran dan yang utama kekhlasan hati untuk memberi pelayanan yang maksimal terhadap segala kebutuhan siswa sehingga cipta yang berkaitan dengan pengetahuan bisa terpenuhi, Karsa yang berkaitan dengan keinginan bisa tergali, serta Karya sebagai bukti dari tingginya kreasi bisa teruji.
Budi pekerti harus menjadi tujuan inti dalam setiap indikator pembelajaran yang kita rencanakan. Bahkan budi pekerti bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan kita dalam menuntun siswa menggali jati dirinya. Bila salam dan do'a sudah menjadi terbiasa tanpa karena ada perintah mereka lakukan, Tutur kata selalu sopan dan ramah. Selalu jujur dalam berucap dan bertindak. Bertanggung jawab bila mendapat tugas dan amanat. Segera minta maaf bila melakukan kesalahan, tak lupa mengucapkan terima kasih bila mendapat bantuan.
Secara kodrat alam siswa adalah insan yang perlu dituntun pertumbuhan dan perkembangannya dengan penuh kasih, sikap gembira, perhatian dan kasih sayang tanpa melihat status perbedaan baik secara sosial, ekonomi maupun keturunannya. Ternyata konsep bermain akan lebih tepat untuk direalisasikan dalam penyampaian materi pembelajaran karena relevan dengan konsep kodrat alam yang mana anak lebih tertarik pada situasi riang gembira tanpa tekanan.
Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Kita harus bisa membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik. Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas dalam penerapannya
· Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?
1. Akan membiasakan menyampaikan salam dan bahagia, karena ucapan adalah do’a dan sesuai dengan nilai-nilai agamis yang ada di lingkungan saya.
2. Akan menerapkan konsep menuntun membimbing, memberi petunjuk jalan kehidupan sesuai arah yang dipilihnya, Memberi peluang untuk memilih kegiatan yang ditawarkan, tidak memaksakan kehendak dengan menjejalkan berbagai materi yang direncanakan pendidik tanpa kesiapan peserta didik.
3. Akan berperan sebagai petani yang akan memelihara, merawat anak sebagai benih yang harus tumbuh secara alami sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman. memperhatikan kondisi lingkungan sekolah, memperhatikan cara pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, Memilih metode dan strategi yang tepat, yang berpihak pada anak sehingga pembelajaran benar-benar terpusat pada anak. Menjaga dari serangan hama seperti pergaulan bebas, pengaruh napza, mencegah terjadinya tawuran kebiasaan membuly.
4. Menerapkan konsep bermain pada saat penyampaian materi pembelajaran sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama, sehingga pada saat proses pembelajaran terjadi tumbuh semangat yang riang pada diri anak, menghilangkan rasa jemu dan jenuh. Menambah semangat untuk bisa memunculkan jiwa-jiwa patriotisme, mandiri, saling menghormati. membuat atau mencari bentuk-bentuk permainan yang sifatnya mengedukasi sehingga bukan hanya sifat bahagianya saja yang didapat tapi nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kebudayaan bisa berkembang melalui perpaduan harmonisasi antara pikiran, perasaan, kemauan dan tenaga. Cipta, karsa, karya dan pekerti bisa tergali dan terimplementasikan pada pribadi peserta didik.
5. Menuntun anak menjadi murid yang memiliki budi pekerti, berpengetahuan tinggi dan berperilaku terpuji. Yang memiliki kesadaran tinggi untuk berpartisipasi dalam membangun negeri melalui prestasi dan dedikasi.
Berusaha membantu kebijakan pemerintah untuk mewujudkan fropil pelajar Pancasila
1. Bernalar kritis
Para siswa diharapkan memiliki kemampuan memecahkan masalah. Hal ini berhubungan dengan kemampuan kognitif.
2. Mandiri
Siswa secara independen termotivasi meningkatkan kemampuannya, bisa mencari pengetahuan serta termotivasi.
3. Kreatif
Siswa bisa menciptakan hal baru, berinovasi secara mandiri, dan mempunyai rasa cinta terhadap kesenian dan budaya.
4. Gotong-royong
Siswa memiliki kemampuan
berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa
depan agar bisa bekerja secara tim.
5. Kebhinekaan global
Siswa mencintai keberagaman budaya, agama dan ras di negaranya serta dunia, sekaligus menegaskan mereka juga warga global.
6. Berakhlak mulia
Siswa memahami moralitas, spiritualitas, dan etika berada, yang merupakan hasil dari pendidikan karakter.
“Jadi, bukan hanya dengan membaca materi lalu diuji, melainkan juga
untuk menciptakan karya. Maka, saya mempunyai moto, kalau kita ingin
melakukan transformasi pembelajaran di dalam suatu ruang kelas maka
harus banyak tanya, banyak coba, dan banyak karya,” jelas Mendikbud. Pesan Mendikbud ini semoga bisa diaplikasikan dalam proses pembelajaran mulai sekarang dan di masa yang akan satang.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mendikbud Nadiem: Ini 6 Profil Pelajar Indonesia", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2020/05/07/130140471/mendikbud-nadiem-ini-6-profil-pelajar-indonesia.
Penulis : Albertus Adit
Editor : Albertus Adit
Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L