Selasa, 27 Oktober 2020

 Kesimpulan   Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara

             Oleh: Jubaedah CGP Garut (063) SDN 4 Barusari

1.  Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1?

Filosofi Pendidikan Indonesia yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara sudah lama saya kenal. Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso Tut Wuri Handayani. Bahkan tut wuri Handayani menjadi lambang atau logo di dunia pendidikan di negara tercinta ini. Namun penerapannya masih jauh dari yang diharapkan. Kita terlalu kaku untuk menerapkannya karena terkekang aturan yang bersifat baku dan menyeluruh.

Pemikiran saya selama ini masih menganggap bahwa murid adalah obyek yang harus mengikuti apa yang kita tugaskan, murid adalah sosok yang harus selalu mendengar apa yang disampaikan oleh guru, murid dipaksa untuk menghapal dan mengingat apa yang disampaikan guru, kurang diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan keinginannya. Kreatifitas siswa dibatasi oleh ruang dan waktu. ilmu yang diberikan juga bersifat sudah baku. “Biasanya dituangkan dalam buku teks dan materinya hanya itu-itu saja. Metode pengajarannya hanya seputar listening atau mendengarkan, mencatat dan menghafal teks. 

Pada saat assessment atau penilaian biasanya hanya melalui ujian dengan soal pilihan ganda, siswa tidak memiliki kebebasaan untuk menuangkan pikirannya terkait soal yang diberikan. Kita terasa terbebani kalau memberikan soal yang bersifat uraian atau berupa pemecahan masalah. 

Mungkin selama ini kita hanya berpikir menghabiskan waktu saja untuk menunaikan kewajiban, berangkat jam 07.00 pulang jam 12.30, tanpa kita renungkan apa yang menjadi kesalahan dari setiap kegagalan. Saya selalu menganggap kegagalan anak adalah kegagalan pribadinya sendiri. Padahal banyak hal yang bisa menjadi mata rantai kegagalan tersebut. 

2.   Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini?

 Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dengan pandangan Ki Hajar Dewantara tersebut membuat saya sadar bahwa apa yang telah  saya lakukan selama ini masih jauh dari cara pandang KHD, saya harus memandang pada murid saya bahwa murid saya adalah insan-insan yang memiliki potensi yang harus dituntun perkembangannya dengan penuh kasih dan keikhlasan. Selalu berikan senyuman pada saat memandangnya. Saya harus bisa menjadi teladan bagi mereka dengan contoh-contoh perilaku yang bisa ditiru, baik dalam hal kedisiplinan, tutur kata, etika, kesopanan, keimanan dan cara beribadah.  
Sikap menjadi tuan dalam kelas ternyata harus berubah menjadi menghamba kepada tuan dalam hal ini siswa didik kita. Untuk bisa menghamba kepada siswa diperlukan kesadaran, kesabaran dan yang utama kekhlasan hati untuk memberi pelayanan yang maksimal terhadap segala kebutuhan siswa sehingga cipta yang berkaitan dengan pengetahuan  bisa terpenuhi, Karsa yang berkaitan dengan keinginan bisa tergali, serta Karya sebagai bukti dari tingginya kreasi bisa teruji.

Budi pekerti harus menjadi tujuan inti dalam setiap indikator pembelajaran yang kita rencanakan. Bahkan budi pekerti bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan kita dalam menuntun siswa menggali jati dirinya. Bila salam dan do'a sudah menjadi terbiasa tanpa karena ada perintah mereka lakukan, Tutur kata selalu sopan dan ramah. Selalu jujur dalam berucap dan bertindak.  Bertanggung jawab bila mendapat tugas dan amanat. Segera minta maaf bila melakukan kesalahan, tak lupa mengucapkan terima kasih bila mendapat bantuan. 

Secara kodrat alam siswa adalah insan yang perlu dituntun pertumbuhan dan perkembangannya dengan penuh kasih, sikap gembira, perhatian dan kasih sayang tanpa melihat status perbedaan baik secara sosial, ekonomi maupun keturunannya. Ternyata konsep bermain akan lebih tepat untuk direalisasikan dalam penyampaian materi pembelajaran karena relevan dengan konsep kodrat alam yang mana anak lebih tertarik pada situasi riang gembira tanpa tekanan. 

Meneguhkan komitmen adalah modal awal merdeka belajar, apa tujuan kita sebagai pendidik. Kita harus bisa membedakan cara dengan tujuan. Rangking, akreditasi, ujian, seleksi adalah cara yang saat ini seringkali menjadi tujuan dan prioritas utama diatas tujuan pendidikan nasional dan misi pribadi kita masing-masing saat memilih menjadi pendidik. Guru yang merdeka belajar adalah guru yang mandiri. Mandiri adalah proses yang kita gerakan. Mandiri dalam arti sesungguhnya adalah memegang kendali. Pendidik yang merdeka belajar terus melakukan refleksi. Refleksi itu sebuah proses yang sangat tidak nyaman dan penuh resiko. Komitmen, mandiri, refleksi. Tiga kata, tiga dimensi merdeka belajar, namun kompleksitas dalam penerapannya

·  Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?

1.      Akan membiasakan menyampaikan salam dan bahagia, karena ucapan adalah do’a dan sesuai dengan nilai-nilai agamis yang ada di lingkungan saya.

2.      Akan menerapkan konsep menuntun membimbing, memberi petunjuk jalan kehidupan sesuai arah yang dipilihnya, Memberi peluang untuk memilih kegiatan yang ditawarkan, tidak memaksakan kehendak dengan menjejalkan berbagai materi yang direncanakan pendidik tanpa kesiapan peserta didik.

3.      Akan berperan sebagai petani yang akan memelihara, merawat anak sebagai benih yang harus tumbuh secara alami sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman. memperhatikan kondisi lingkungan sekolah, memperhatikan cara pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, Memilih metode dan strategi yang tepat, yang berpihak pada anak sehingga pembelajaran benar-benar terpusat pada anak. Menjaga dari serangan hama seperti pergaulan bebas, pengaruh napza, mencegah terjadinya tawuran kebiasaan membuly.

4.      Menerapkan konsep bermain pada saat penyampaian materi pembelajaran sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama, sehingga pada saat proses pembelajaran terjadi tumbuh semangat yang riang pada diri anak, menghilangkan rasa jemu dan jenuh. Menambah semangat untuk bisa memunculkan jiwa-jiwa patriotisme, mandiri, saling menghormati. membuat atau mencari bentuk-bentuk permainan yang sifatnya mengedukasi sehingga bukan hanya sifat bahagianya saja yang didapat tapi nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kebudayaan bisa berkembang melalui perpaduan harmonisasi antara pikiran, perasaan, kemauan dan tenaga. Cipta, karsa, karya dan pekerti bisa tergali dan terimplementasikan pada pribadi peserta didik.

5.      Menuntun anak menjadi murid yang memiliki budi pekerti, berpengetahuan tinggi dan berperilaku terpuji. Yang memiliki kesadaran tinggi untuk berpartisipasi dalam membangun negeri melalui prestasi dan dedikasi.

            Berusaha membantu kebijakan pemerintah untuk mewujudkan  fropil pelajar Pancasila 

1. Bernalar kritis
Para siswa diharapkan memiliki kemampuan memecahkan masalah. Hal ini berhubungan dengan kemampuan kognitif.
 

2. Mandiri
Siswa secara independen termotivasi meningkatkan kemampuannya, bisa mencari pengetahuan serta termotivasi.

3. Kreatif
Siswa bisa menciptakan hal baru, berinovasi secara mandiri, dan mempunyai rasa cinta terhadap kesenian dan budaya.

4. Gotong-royong
Siswa memiliki kemampuan berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa depan agar bisa bekerja secara tim.

5. Kebhinekaan global
Siswa mencintai keberagaman budaya, agama dan ras di negaranya serta dunia, sekaligus menegaskan mereka juga warga global.

6. Berakhlak mulia
Siswa memahami moralitas, spiritualitas, dan etika berada, yang merupakan hasil dari pendidikan karakter.

 “Jadi, bukan hanya dengan membaca materi lalu diuji, melainkan juga untuk menciptakan karya. Maka, saya mempunyai moto, kalau kita ingin melakukan transformasi pembelajaran di dalam suatu ruang kelas maka harus banyak tanya, banyak coba, dan banyak karya,” jelas Mendikbud. Pesan Mendikbud ini semoga bisa diaplikasikan dalam proses pembelajaran mulai sekarang dan di masa yang akan satang.

 

1. Bernalar kritis dan dapat memecahkan masalah Pelajar Indonesia harus bisa bernalar dan berpikir kritis. Tak hanya itu saja, pelajar juga bisa memecahkan masalah. Ini jadi aspek kognitif. Baca juga: 7 Tips Belajar dari Rumah dari Mendikbud Nadiem Makarim 2. Harus mandiri Seorang pelajar haruslah mandiri. Pelajar diharapkan mampu secara independen termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya. 3. Harus kreatif Menjadi seorang pelajar untuk saat ini harus kreatif. Pelajar juga harus bisa menciptakan hal-hal yang baru. "Tak hanya itu saja, pelajar harus bisa berinovasi secara mandiri, dan dia punya rasa cinta pada hal-hal kesenian dan budaya," ujar Nadiem seperti dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemdikbud RI, Rabu (6/5/2020). 4. Punya sikap gotong royong Menurut Nadiem, pelajar harus mempunyai sikap gotong royong. Semangat kolaborasi ini akan menjadi soft skills yang sangat relevan sampai kapanpun. 5. Sikap kebhinekaan global Pelajar Indonesia harus mencintai keberagaman budaya, mencintai keberagaman agama dan ras secara internasional. Menurut Nadiem, sudah harus ada perluasan pengetahuan budaya dari dalam negeri. Karena itu, pelajar Indonesia diminta memiliki rasa sebagai penduduk global yang wajib berkompetisi. 6. Berakhlak mulia "Di sinilah moralitas, etika, spritual itu ada. Jadi mau enggak mau pendidikan karakter harus jadi pilar inti dari pembangunan pendidikan nasional," kata Nadiem.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mendikbud Nadiem: Ini 6 Profil Pelajar Indonesia", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2020/05/07/130140471/mendikbud-nadiem-ini-6-profil-pelajar-indonesia.
Penulis : Albertus Adit
Editor : Albertus Adit

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

 

Sabtu, 26 November 2016

Manfaat Teknologi

Teknologi sekarang semakin modern dan karena kemodern ini lah yang menyebabkan manusia menggunakan teknologi supaya dibilang tidak GAPTEK (Gagap Teknologi). Teknologi membawa kita ke beberapa dampak yang telah di alami di Indonesia, ada dampak yang Positif maupun Negatif.
                Dampak positif dari Teknologi:
*       Memudahkan mencari informasi
*       Memajukan ilmu pengetahuan
*       Memudahkan dalam jual beli online
*       Memudahkan kita mencari teman (Facebook, Twitter, Hello, dll) tapi harus menggunakan dengan benar {biasanya yang lagi galau kalau buat status banyak banget kayak SCILA}
*       Membuat orang-orang semakin modern
*       Membantu kerja pemerintah di daerh terpencil
*       Memberikan hiburan kepada manusia agar tidak suntuk
*       Memudahkan kita mencari berita di dalam negeri maupun luar negeri
Dampak negatif dari Teknologi:
·          1.  Semakin maraknya jual beli bayi
·         2. Jika internet disalah gunakan, anak-anak yang mesih dibawah umur bisa melihat video atau foto yang tidak 3. seharusnya mereka mempelajarinya (Video Porno, dll)
·         4. Anak-anak sekarang sering sekali memainkan game online hingga lupa waktu
·         5. Semakin banyak penculikan yang disebakan karena perkenalan melalui media onlne